AMBON, SIRIMAUPOS.COM – Komitmen menjadikan Proyek LNG Blok Masela sebagai motor penggerak transformasi ekonomi Maluku kembali ditegaskan dalam Forum Group Discussion (FGD) yang mempertemukan Inpex Masela Ltd, Universitas Pattimura (Unpatti), Pemerintah Provinsi Maluku, serta para kepala daerah dan pemangku kepentingan terkait di Ambon, Kamis (11/6)
Forum tersebut menjadi wadah strategis untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah konkret dalam menyiapkan sumber daya manusia, pelaku usaha lokal, dan rantai pasok daerah agar mampu mengambil bagian dalam salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) terbesar di Indonesia Timur.

Vice President Supply Chain Management (SCM) Inpex Masela Ltd, Rudi Imran, menegaskan bahwa seluruh pemangku kepentingan memiliki visi yang sama dalam membangun Maluku dan Indonesia Timur melalui kehadiran proyek energi berskala global tersebut.
“Yang paling penting adalah kita memiliki frekuensi yang sama, memiliki keinginan yang sama untuk membangun Indonesia Timur, khususnya Provinsi Maluku. Proyek ini harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dari hulu hingga hilir,” kata Rudi Imran.
Menurutnya, manajemen Inpex, termasuk pemegang saham dari Jepang, memiliki komitmen kuat agar pengelolaan proyek tidak hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga pada pembangunan kapasitas masyarakat lokal yang berkelanjutan.

“Komitmen kami adalah bagaimana proyek ini nantinya dapat dioperasikan oleh anak bangsa dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia, khususnya masyarakat Maluku,” kata Rudi Imran.
Dalam paparannya, Rudi menjelaskan bahwa Proyek LNG Blok Masela saat ini berada pada tahap Front-End Engineering Design (FEED), yakni fase perancangan teknis dan rekayasa awal sebelum memasuki tahap konstruksi. Pada fase tersebut, sejumlah kontraktor tengah menyusun desain optimal untuk empat fasilitas utama yang akan dibangun dalam pengembangan lapangan gas Abadi.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan proyek Masela telah berlangsung sejak penemuan cadangan gas pada tahun 2000, setelah kontrak kerja sama wilayah tersebut ditandatangani pada 1998. Hingga kini, Inpex telah melakukan pengeboran 10 sumur sebagai bagian dari proses evaluasi dan pengembangan cadangan gas yang akan dimonetisasi pada tahap produksi.
Namun demikian, Rudi mengingatkan bahwa tantangan terbesar proyek ini bukan semata persoalan teknis, melainkan bagaimana memastikan masyarakat lokal tidak tertinggal di tengah masuknya investasi bernilai miliaran dolar tersebut.
“Jangan sampai masyarakat lokal justru terpinggirkan oleh pemodal besar. Pemerintah daerah perlu menyiapkan aturan main yang kuat agar pengusaha lokal dan tenaga kerja lokal mendapatkan ruang yang adil dalam ekosistem proyek ini,” kata Rudi Imran.
Sementara itu, Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy, menilai Proyek LNG Blok Masela memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda ketahanan energi nasional yang menjadi prioritas pemerintah pusat. Menurutnya, perguruan tinggi harus mengambil peran aktif sebagai pusat inovasi dan penyedia solusi pembangunan daerah.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading akademis. Kami harus menghadirkan inovasi strategis yang memberikan solusi langsung terhadap tantangan pembangunan daerah, termasuk dalam pengembangan Blok Masela,” kata Fredy Leiwakabessy.
Fredy menjelaskan bahwa kerja sama antara Unpatti dan Inpex saat ini difokuskan pada tiga kajian utama. Pertama, Kajian Kesiapan Vendor Lokal (Local Vendor Capability Study) untuk memastikan pelaku usaha daerah mampu memenuhi standar kebutuhan proyek. Kedua, Kajian Kesiapan Tenaga Kerja Lokal (Local Labor Readiness Study) guna menyiapkan SDM kompeten yang dapat terserap dalam berbagai tahapan proyek. Ketiga, Survei Rantai Pasok dan Peluang Pengadaan Lokal (Supply Chain and Local Procurement Opportunity Survey) yang bertujuan memperkuat ekosistem ekonomi daerah.
Menurutnya, ketiga kajian tersebut melibatkan berbagai pihak mulai dari akademisi, asosiasi pengusaha, sektor perbankan hingga instansi teknis pemerintah untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis data dan bukti yang dapat diimplementasikan secara nyata.
Pemerintah Provinsi Maluku yang diwakili Sekretaris Asisten II Setda Maluku, Kasrul Selang, menyampaikan bahwa kehadiran Proyek LNG Blok Masela harus dimaknai sebagai momentum bersejarah untuk mempercepat transformasi ekonomi daerah. Namun keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari besarnya investasi maupun volume produksi energi yang dihasilkan.
“Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat Maluku mampu menjadi bagian utama dari proses pembangunan tersebut dan generasi mudanya memiliki kompetensi untuk mengisi berbagai peluang kerja serta usaha yang tersedia,” kata Kasrul Selang.
Kasrul menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi dan masyarakat dalam menyiapkan ekosistem pendukung proyek. Mulai dari peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal, akses pembiayaan, sertifikasi usaha, pembangunan infrastruktur pendukung hingga penguatan kualitas sumber daya manusia.
Ia juga mengapresiasi peran Universitas Pattimura yang telah mengambil posisi strategis sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan penyusunan rekomendasi berbasis kajian ilmiah untuk mendukung kesiapan daerah menghadapi proyek energi terbesar di Maluku tersebut.
FGD ini menjadi sinyal kuat bahwa keberhasilan Proyek LNG Blok Masela tidak hanya bergantung pada kesiapan teknis dan investasi, tetapi juga pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan memastikan manfaat ekonomi dapat dinikmati masyarakat lokal.
Dengan sinergi antara pemerintah, dunia akademik, dan sektor industri, proyek yang digadang-gadang menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur itu diharapkan mampu menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat Maluku.(*)










