AMBON, SirimauPos– Ketua KADIN Maluku Sam Latuconsina menegaskan bahwa Proyek strategis nasional Blok Masela kini memasuki fase krusial yang akan menentukan sejauh mana masyarakat dan pelaku usaha lokal Maluku mampu mengambil manfaat dari investasi energi terbesar di kawasan timur Indonesia.
Hasil kajian komprehensif yang dilakukan Universitas Pattimura bersama INPEX menunjukkan fakta bahwa kesiapan rantai pasok dan vendor lokal Maluku masih jauh dari standar industri hulu migas internasional.
Temuan tersebut menjadi sorotan utama dalam Forum Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Ambon. Kajian itu tidak hanya memetakan kondisi aktual dunia usaha di Maluku, tetapi juga memberikan gambaran mengenai peluang ekonomi besar yang masih dapat diraih apabila seluruh pemangku kepentingan bergerak cepat melakukan pembenahan.
Sam Latuconsina, menegaskan bahwa hasil kajian tersebut harus menjadi alarm sekaligus motivasi bagi pelaku usaha daerah untuk keluar dari ketergantungan terhadap proyek-proyek pemerintah yang selama ini menjadi sumber utama aktivitas ekonomi.
“hasil kajian Unpad menyampaikan bahwa hampir semua pengusaha lokal ‘mati suri’, bahkan modal rata-rata berada di bawah Rp1 miliar. Ini menjadi cambuk bagi saya untuk memberikan motivasi. Kita tidak boleh lagi hanya menjadi penonton yang bising di media sosial,” kata Sam Latuconsina.
Menurut Sam, kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar pelaku usaha lokal selama bertahun-tahun bergantung pada proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ketika terjadi efisiensi anggaran, aktivitas ekonomi langsung mengalami perlambatan dan banyak usaha kehilangan sumber pendapatan.
Situasi itu diperparah dengan minimnya keterlibatan pengusaha daerah dalam berbagai proyek strategis nasional. Bahkan, sejumlah pekerjaan yang sebenarnya dapat dikerjakan pelaku usaha lokal sering kali dikuasai perusahaan besar nasional maupun badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki kapasitas lebih kuat.
Di tengah kondisi tersebut, KADIN Maluku menawarkan solusi strategis melalui peran PT Maluku Energi Abadi (MEA) sebagai local integrator. Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mendapat mandat mengelola Participating Interest (PI) sebesar 10 persen pada proyek Blok Masela, MEA diharapkan menjadi penghubung antara kebutuhan industri migas dengan kapasitas pelaku usaha lokal.
Peran local integrator tersebut mencakup pendataan, pembinaan, peningkatan kapasitas, hingga pengawalan proses sertifikasi vendor lokal agar memenuhi standar yang dipersyaratkan dalam proyek migas berskala internasional. Langkah itu juga sedang diperkuat melalui penyusunan regulasi daerah sebagai landasan hukum pelaksanaannya.
“Kita tidak bisa hanya berteriak menuntut jatah tenaga kerja atau material harus lokal, tanpa menyiapkan diri kita sendiri. Ini proyek nasional dengan standar global. Kita harus cari jalan keluar, apakah nanti lewat skema KSO dengan perusahaan nasional atau strategi lainnya,” kata Sam Latuconsina.
Salah satu fokus utama yang sedang diperjuangkan adalah pengawalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) atau local content dalam pelaksanaan proyek Blok Masela. Berdasarkan hasil kajian, terdapat potensi local content nasional sebesar 26,6 persen yang dapat diserap selama proses pengembangan proyek berlangsung.
Jika mengacu pada nilai investasi yang diproyeksikan dalam pengembangan Blok Masela, porsi local content tersebut diperkirakan setara dengan sekitar Rp90 triliun. Nilai tersebut mencakup peluang keterlibatan tenaga kerja lokal, penyediaan barang dan jasa, hingga pemanfaatan material dari dalam negeri.
Besarnya potensi ekonomi itu menjadi alasan mengapa KADIN Maluku menilai persiapan sejak dini merupakan langkah yang tidak bisa ditunda. Apabila mampu dikawal dengan baik, manfaat ekonomi yang tercipta diperkirakan akan berlangsung selama 30 hingga 40 tahun masa operasional proyek dan memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat serta peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sebagai tindak lanjut dari rekomendasi kajian Unpad, KADIN Maluku juga berencana menggelar diskusi ekonomi secara berkala setiap bulan. Forum tersebut akan menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, organisasi pengusaha, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait untuk membahas kebutuhan teknis dan strategi peningkatan kapasitas dunia usaha lokal.
Melalui diskusi tersebut, pengusaha daerah akan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai standar industri migas, persyaratan sertifikasi, pola kemitraan bisnis, hingga peluang kerja sama dengan perusahaan nasional yang telah memiliki pengalaman dalam proyek energi berskala besar.
Kajian yang difasilitasi INPEX bersama perguruan tinggi itu dinilai berhasil memberikan gambaran objektif mengenai posisi Maluku saat ini. Di satu sisi, kondisi dunia usaha lokal masih menghadapi banyak keterbatasan. Namun di sisi lain, waktu yang tersedia sebelum fase konstruksi dan produksi masif dimulai masih memberikan kesempatan untuk melakukan transformasi.
Blok Masela kini tidak lagi dipandang semata sebagai proyek energi nasional, tetapi sebagai momentum bersejarah bagi Maluku untuk membangun fondasi ekonomi baru yang lebih mandiri dan kompetitif. KADIN Maluku mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga media massa untuk membangun kesadaran kolektif bahwa kesempatan besar tersebut hanya dapat diraih melalui kesiapan dan kerja bersama yang dimulai dari sekarang.($P)










