Ambon, SirimauPos— Ketidakpastian terkait jadwal groundbreaking proyek strategis nasional (PSN) LNG Blok Masela kembali berlanjut. Rapat Koordinasi (Rakor) tingkat tinggi yang digelar Pemerintah Provinsi Maluku di Jakarta untuk memastikan kelanjutan proyek raksasa ini belum membuahkan hasil konkret terkait tanggal pasti eksekusi di lapangan.
Rakor persiapan yang berlangsung di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, pada Rabu (10/06/2026) kemarin, nyatanya belum diakomodir langsung oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa beserta jajaran dikabarkan hanya diterima oleh Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung.
Hingga saat ini, konfirmasi resmi mengenai tanggal pelaksanaan groundbreaking masih menjadi tanda tanya besar. Proyek yang sangat dinantikan masyarakat Maluku ini tercatat terus mengalami penundaan yang cukup panjang, terhitung sejak Januari 2026 hingga memasuki pertengahan Juni 2026.
VC SCM dan IMT Masela Ltd, Rudi Imran, saat dimintai keterangannya di Ambon, Kamis (11/06/2026), membenarkan bahwa pertemuan krusial di Jakarta tersebut baru sebatas koordinasi dengan pihak Wakil Menteri, sehingga keputusan final belum dapat diketuk.
”Ya, tetap dijadwalkan, cuma belum ada konfirmasi dengan Menteri. Kemarin itu rakor dengan Wakil Menteri. Kan di atas Wamen masih ada Menteri,” ujar Rudi Imran kepada SirimauPos.
Meski agenda persiapan terus bergulir di tingkat teknis dan kementerian, kepastian hukum dan politis untuk memulai pembangunan fisik proyek abadi ini tetap berada di meja Menteri ESDM.
Blok Masela merupakan salah satu tulang punggung investasi energi nasional yang diproyeksikan mampu mendongkrak perekonomian wilayah Indonesia Timur, khususnya Provinsi Maluku. Namun, drama penundaan yang terjadi selama semester pertama tahun 2026 ini kian memperpanjang daftar ketidakpastian bagi iklim investasi dan harapan masyarakat lokal.
Publik kini menunggu sejauh mana komitmen Kementerian ESDM di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia untuk segera memberikan lampu hijau dan menetapkan tanggal pasti groundbreaking, agar proyek bernilai ratusan triliun rupiah ini tidak sekadar menjadi agenda rapat yang terus-menerus tertunda. (SP)










