AMBON, SIRIMAUPOS — Suasana ibadah hari Minggu di Gereja Protestan Maluku (GPM) Imanuel Galala Hative Kecil (Gatik) terasa begitu kental dengan nuansa budaya. Pada Minggu, 31 Mei 2026, jemaat yang hadir disuguhkan sebuah momen bersejarah dan penuh berkat yang menyentuh hati.
Seluruh rangkaian ibadah, mulai dari nyanyian, doa, hingga pembacaan Firman Tuhan, dihantarkan sepenuhnya dalam dialek Ambon yang khas dan penuh kehangatan.
Di tengah ibadah tersebut, suasana mendadak berubah haru dan khidmat saat sosok penyanyi legendaris Ambon, Jimmy Titarsole, melangkah maju. Dengan karakter suaranya yang matang dan berkarisma, ia membawakan kidung pujian legendaris, “Firman-Mu Itu Pelita Bagi Kakiku”. Nada demi nada yang mengalun dari suaranya seolah menghidupkan kembali ruang gereja, membawa jemaat larut dalam perenungan yang mendalam.
Bagi Jimmy Titarsole, momen menyanyi di Aaltar Gereja Imanuel Gatik hari itu bukan sekadar pelayanan biasa. Di hadapan jemaat, ia dengan penuh emosional mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta. Pasalnya, kesempatan membawakan lagu pujian tersebut bertepatan langsung dengan hari ulang tahunnya yang ke-69 tahun, sebuah usia yang ia maknai sebagai anugerah dan kesetiaan Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya.

Mendengar nama Jimmy Titarsole, ingatan masyarakat Maluku pasti akan langsung tertuju pada era keemasan musik pop daerah yang melegenda. Jimmy adalah salah satu ikon musisi legendaris asal Ambon yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya di dunia tarik suara. Lewat vokal emasnya, ia berhasil mempopulerkan berbagai tembang manis yang hingga kini masih melekat erat di hati para pencinta musik melankolis dan lagu daerah Maluku.
Perjalanan karier Jimmy Titarsole dipenuhi dengan konsistensi dalam menjaga identitas budaya Maluku melalui nada. Di usianya yang kini genap 69 tahun, semangat bermusiknya tidak pernah pudar, melainkan bertransformasi menjadi persembahan iman yang lebih matang. Kehadirannya di Gereja Imanuel Gatik menjadi bukti nyata bahwa talenta yang dianugerahkan Tuhan terus ia kembalikan untuk memuliakan nama-Nya.
Kemeriahan ibadah bernuansa etnik ini semakin lengkap dengan penampilan memukau dari Paduan Suara Sektor Jisrel Jemaat GPM Gatik.
Dengan harmoni yang indah, mereka melantunkan kidung pujian “Ku Slalu Ingin MemujiMu”. Perpaduan suara yang merdu dan lirik ini berhasil memancarkan atmosfer sukacita dan rasa syukur yang luar biasa di dalam gedung gereja.
Ibadah minggu pagi yang penuh berkat ini dipimpin oleh Pendeta Jefry Behuku. Dalam khotbahnya, Pdt. Jefry membawakan refleksi teologis yang diangkat dari kitab Perjanjian Baru, tepatnya pada 2 Korintus 13:11–13. Refleksi ini menyoroti pentingnya kehadiran Tuhan dalam unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, dengan tema “Allah Memberkati Gereja Rumah Tangga.”
Dalam paparannya, Pdt. Jefry Behuku menekankan bahwa di tengah dinamika dan tantangan kehidupan modern saat ini, Allah Trinitas selalu hadir untuk menyertai, memelihara, dan memberkati gereja rumah tangga. Tujuannya adalah agar setiap keluarga Kristen dapat terus bertumbuh dalam iman dan memiliki karakter yang mencerminkan Kristus. Bacaan dari 2 Korintus tersebut, yang merupakan bagian penutup surat Rasul Paulus, membawa pesan yang sangat hangat dan mendalam.
”Paulus mengajak kita semua sebagai jemaat untuk hidup dalam sukacita, pemulihan, sehati sepikir, dan damai sejahtera,” ujar Pdt. Jefry di atas mimbar. Behuku mengingatkan bahwa kedamaian di dalam rumah tangga bukanlah sekadar hasil dari usaha atau ego manusia semata, melainkan buah nyata dari penyertaan Allah Trinitas—melalui kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus.
Lebih lanjut, dalam konteks gereja rumah tangga, keluarga dipanggil untuk menjadi tempat pertama dan utama di mana iman ditumbuhkan dan karakter dibentuk.
Pdt. Jefry juga menggarisbawahi bahwa pendidikan karakter Kristen tidak akan pernah lahir dari teori-teori semata. Pendidikan karakter yang sejati lahir dari teladan hidup sehari-hari yang dipenuhi oleh kasih, pengampunan, dan kesabaran antar anggota keluarga.
Catatan Refleksi: Ketika orang tua dan seluruh anggota keluarga hidup dalam persekutuan yang intim dengan Allah Trinitas, maka rumah tangga akan bertransformasi menjadi ruang yang aman untuk bertumbuh, baik dalam iman maupun karakter.
Ibadah minggu berdialek Ambon di Gereja Imanuel Gatik hari itu diakhiri dengan berkat yang indah. Sukacita ulang tahun Jimmy Titarsole, keindahan pujian etnik Paduan Suara Sektor Jisrel, dan kedalaman firman yang disampaikan Pdt. Jefry Behuku menjadi refleksi bersama. Bahwa Allah Trinitas akan terus memberkati setiap keluarga agar siap menjadi saksi Kristus yang saling membangun, menguatkan, dan memuliakan Tuhan di tengah dunia.(Monty)










