SirimauPos
SirimauPos
OPINI  

Memaknai Hari Kebangkitan Nasional 2026: Safitri Malik Solissa Serukan Kolaborasi Total Demi Masa Depan Maluku

AMBON, SirimauPos— Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap 20 Mei kembali menjadi refleksi penting bagi pembangunan daerah, khususnya di Provinsi Maluku. Mantan Bupati Buru Selatan, Safitri Malik Solissa, menegaskan bahwa semangat kebangkitan nasional di era modern tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjuangan historis, tetapi harus diwujudkan dalam kolaborasi nyata seluruh elemen masyarakat demi kemajuan daerah.
Menurut Safitri, tantangan pembangunan Maluku saat ini membutuhkan keterlibatan kolektif antara pemerintah daerah, pemangku kepentingan, sektor swasta, akademisi, mahasiswa, hingga kelompok pemuda. Ia menilai pembangunan tidak dapat dijalankan secara parsial karena kompleksitas persoalan daerah membutuhkan sinergi lintas sektor yang kuat dan berkelanjutan.
“Semangat Hari Kebangkitan Nasional harus dimaknai sebagai momentum menyatukan seluruh kekuatan masyarakat Maluku. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Semua unsur harus bergerak bersama untuk memastikan masa depan Maluku menjadi lebih maju dan sejahtera,” kata Safitri Malik Solissa.
Mantan anggota Komisi II DPRD Maluku itu juga menyoroti dinamika sosial-politik yang berkembang menjelang peringatan Harkitnas 2026, termasuk aksi demonstrasi mahasiswa dan berbagai kritik yang muncul di ruang publik maupun media sosial. Menurutnya, kritik yang disampaikan masyarakat merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus diterima secara terbuka oleh setiap penyelenggara pemerintahan.
“Jika ada demo dan kritik di media, itu harus dimaknai sebagai bagian dari semangat kebangkitan nasional yang digelorakan dalam bentuk pernyataan sikap. Apabila disikapi dengan bijak dan kepala dingin, itu akan menjadi masukan yang sangat berharga di era kebangkitan nasional ini,” kata Safitri Malik Solissa.
Ia menegaskan, aksi demonstrasi mahasiswa tidak boleh dipandang semata sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan sebagai kontrol sosial yang bertujuan menjaga arah pembangunan tetap berada pada kepentingan rakyat. Dalam konteks demokrasi modern, kata dia, ruang kritik justru menjadi indikator sehatnya kehidupan berbangsa dan bernegara.
Safitri menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial yang mampu mengingatkan pemerintah terhadap berbagai persoalan publik. Karena itu, ia meminta seluruh pihak tidak bersikap defensif terhadap kritik, tetapi menjadikannya sebagai energi positif untuk memperkuat tata kelola pemerintahan dan pembangunan daerah.
Di sisi lain, Safitri turut mengajak masyarakat Maluku untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi peluang ekonomi besar yang akan hadir melalui sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN). Dua proyek yang menjadi perhatian utama adalah pengembangan Blok Masela serta Maluku Integrited Port (MIP), yang diproyeksikan mampu menggerakkan roda ekonomi daerah dalam beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, keberadaan proyek-proyek strategis tersebut akan membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal. Namun, ia mengingatkan bahwa masyarakat Maluku harus memiliki kesiapan mental, keterampilan, dan daya saing agar tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
“Proyek-proyek strategis nasional ini sangat bermanfaat. Tidak hanya membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda kita, tetapi juga akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan bagi Maluku. Ini adalah momentum kebangkitan ekonomi yang tidak boleh kita lewatkan,” kata Safitri Malik Solissa.
Lebih lanjut, Safitri menekankan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada investasi dan proyek besar, tetapi juga pada kemampuan masyarakat menjaga stabilitas sosial dan memperkuat solidaritas antar-komponen daerah. Ia berharap semangat Harkitnas menjadi titik balik untuk mempererat persatuan di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi Maluku.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026, lanjutnya, harus menjadi pengingat bahwa masa depan Maluku tidak dapat dibangun dengan konflik, polarisasi, maupun ego sektoral. Sebaliknya, kebangkitan daerah hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama yang solid, keterbukaan terhadap kritik, dan komitmen bersama untuk mendorong kesejahteraan masyarakat secara merata.
Dengan berbagai peluang strategis yang mulai terbuka, Safitri optimistis Maluku memiliki potensi besar menjadi salah satu daerah yang mengalami lompatan pembangunan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Harkitnas 2026 sebagai momentum menyatukan langkah menuju Maluku yang lebih maju, produktif, dan berdaya saing.(*)


Dapatkan berita terbaru dari SIRIMAUPOS.COM langsung di ponsel Anda! Klik untuk bergabung di Channel WhatsApp kami sekarang juga.

© Hak Cipta SirimauPos.com. Dilindungi Undang-Undang

error: Konten Dilindungi !