AMBON, SirimauPos— Peta politik Maluku menuju Pilkada 2029 mulai menunjukkan arah yang semakin menarik. Setelah Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath resmi mengambil posisi strategis sebagai Ketua DPW Partai NasDem Maluku, konfigurasi politik yang sebelumnya memungkinkan terbangunnya koalisi permanen NasDem-Gerindra kini berpotensi berubah.
Vanath secara politik telah memilih jalannya sendiri. Dengan posisi sebagai Ketua DPW NasDem Maluku, ia memiliki ruang yang jauh lebih besar untuk membangun kekuatan politik NasDem sekaligus menyiapkan kepentingan elektoral partainya menghadapi Pemilu dan Pilkada mendatang.
Kondisi ini sekaligus membuka ruang bagi terbentuknya poros politik baru.
Salah satu skenario yang paling menarik untuk dibaca adalah kemungkinan pasangan Hendrik Lewerissa – M. Taher Hanubun pada Pilkada Maluku 2029, atau apabila pelaksanaan Pilkada Maluku bergeser menjadi 2031.
Skenario ini bukan tanpa dasar.
Hendrik Lewerissa adalah Ketua Gerindra Maluku sekaligus Gubernur Maluku. Sementara Taher Hanubun merupakan Bupati Maluku Tenggara yang kini tengah mendorong dirinya untuk mendapatkan legitimasi sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Maluku.
Jika Hanubun berhasil memimpin Demokrat Maluku, maka terbuka peluang terbentuknya sebuah pasangan yang memiliki fondasi politik relatif kuat: Ketua Gerindra Maluku berpasangan dengan Ketua Demokrat Maluku.
Inilah yang membuat skenario Lewerissa-Hanubun menjadi menarik.
Bukan hanya pasangan gubernur dan wakil gubernur, tetapi berpotensi menjadi pertemuan dua kekuatan partai yang memiliki basis politik berbeda namun dapat dipertemukan dalam satu kepentingan elektoral.
Gerindra memiliki Lewerissa.
Demokrat berpotensi memiliki Hanubun.
Dan keduanya mempunyai pengalaman pemerintahan.
Lewerissa memiliki pengalaman panjang di dunia politik sekaligus memimpin pemerintahan Provinsi Maluku. Hanubun memiliki pengalaman politik di Dewan provinsi dan kabupaten serta sebagai kepala daerah di Maluku Tenggara dan pengalaman birokrasi yang cukup panjang.
Dari sisi representasi wilayah, kombinasi keduanya juga menjadi salah satu kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Lewerissa dari basis politik Maluku Tengah dan Ambon, sementara Hanubun membawa representasi kuat dari Maluku Tenggara.
Jika dikemas dalam strategi politik yang tepat, pasangan ini dapat menawarkan representasi yang lebih luas terhadap konfigurasi wilayah Maluku.
Bahkan, jika Pilkada benar-benar berlangsung pada 2029, Lewerissa-Hanubun dapat menjadi salah satu pasangan yang secara serius tak mudah dikalahkan.
Apalagi jika Demokrat di bawah kepemimpinan Hanubun mampu melakukan konsolidasi hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Demokrat tidak hanya akan menjadi partai pendukung, tetapi dapat menjadi bagian penting dari mesin politik pasangan tersebut.
Gerindra dan Demokrat kemudian tidak hanya berkoalisi secara nasional, tetapi berpotensi menerjemahkan koalisi tersebut secara konkret di Maluku.
Skenario ini tentu masih membutuhkan proses politik yang panjang.
Hanubun terlebih dahulu harus mendapatkan legitimasi sebagai Ketua DPD Demokrat Maluku. Setelah itu, komunikasi politik antara Demokrat dan Gerindra harus dibangun secara serius.
Selanjutnya, kedua partai harus menghitung elektabilitas, popularitas, kekuatan basis wilayah, hasil Pemilu, serta tingkat penerimaan masyarakat terhadap pasangan yang ditawarkan.
Namun, apabila seluruh variabel tersebut mengarah positif, maka Lewerissa-Hanubun bukan lagi sekadar wacana politik, melainkan pasangan yang sangat layak untuk dipertimbangkan dalam Pilkada Maluku.
Bahkan jika pelaksanaan Pilkada Maluku akhirnya berlangsung pada 2031, peluang pasangan ini dapat semakin matang.
Tambahan waktu dua tahun dapat digunakan untuk memperkuat konsolidasi Demokrat, memperluas jaringan Gerindra, membangun komunikasi antarkedua partai serta menguji tingkat penerimaan masyarakat terhadap pasangan tersebut.
Dengan demikian, ada kemungkinan terbentuk sebuah konfigurasi politik baru:
NasDem dengan Abdullah Vanath di satu jalur, sementara Gerindra-Demokrat dengan Hendrik Lewerissa–Taher Hanubun di jalur lainnya.
Jika konfigurasi tersebut benar-benar terbentuk, maka persaingan Pilkada Maluku akan jauh lebih kompetitif.
Vanath mempunyai posisi strategis sebagai Ketua NasDem Maluku dan Wakil Gubernur.
Lewerissa mempunyai posisi sebagai Gubernur sekaligus Ketua Gerindra Maluku.
Hanubun memiliki posisi strategis sebagai Bupati Maluku Tenggara dan, apabila berhasil memperoleh legitimasi partai, Ketua Demokrat Maluku.
Tiga figur tersebut akan menjadi bagian penting dalam membaca pertarungan politik Maluku ke depan.
Namun, dari sisi koalisi, Lewerissa-Hanubun memiliki satu keunggulan penting: keduanya dapat menyatukan kekuatan pemerintahan dan mesin politik Gerindra-Demokrat dalam satu pasangan.
Karena itu, apabila Hanubun berhasil mengambil posisi Ketua Demokrat Maluku, bukan tidak mungkin komunikasi politik paling serius berikutnya justru mengarah kepada Hendrik Lewerissa.
Lewerissa sebagai calon gubernur. Hanubun sebagai calon wakil gubernur. Gerindra-Demokrat sebagai kendaraan politiknya.
Itulah salah satu skenario yang kini layak dihitung sejak awal.(*)




