Namlea, Sirimaupos.com – Ketua DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Buru Selatan Christian Ruhupessy menyatakan sangat prihatin dengan keberadaan
bendungan Waeapo yang sekiranya telah menelan anggran Rp 2,08 triliun, dan yang direncanakan selesai pekerjaan di bulan Juli 2024 ini, namun sampai sekarang belum juga selesai.
Dirinya mempertaanyakan keterlambatan proyek tersebut sehingga harus berakibat fatal di musim hujan hingga menimbulkan berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor dan terputusnya transpirtasi Namrole-Namlea.

“Mengapa demikian? Masalahnya di mana? Sehingga bukan dapat di selesaikan dengan target waktu yang di tetapkan, malah masyrakat yang menjadi korban akibat jebolnya air sungai dan rumah warga terendam,” tanya Ruhupessy
Dirinya meminta presiden Joko Widodo harus mengevaluasi semua pihak yang bertanggung jawab untuk membagun bendungan ini, telbih khusus kontraktor yang mangerjakannya.
Dikatakan, selain rumah warga yang kini terendam, pekerjaan bendungan Waeapo juga menghambat jalan lintas Nmarole-Namlea karena akibat pekerjaannya itu juga terjadi tanah longsor dan menutupi jalan.
Sampai saat ini, longsor madih menghambat akses transpirtasi dari kabupaten Buru Selatan ke Kabupaten Buru Utara dan masyrakat kedua kabupaten itu sangat merasakan dampak yang cukup besar akibat pekerjaan bendungan Waeapo.
Dirinya mengemukakan, hingga saat ini longsor yang menutupi ruas jalan Namlea-Namrole belum juga dibersihkan sehingga masyarakat belum melaui jalan tersebut.
“Jadi longsor ini akibat adanya pengalihan jalan karena pekerjaan bendungan Waiapo,” tegasnya. (*)