Namlea, Sirimaupos.com – Hujan deras selama sepekan ini mengakibatkan Bendungan Waeapo du Kabupaten Pulau Buru dilaporkan jebol dan menenggelamkan rumah-rumah penduduk pada Jumat (5/7) kemarin.
Video yang direkam warga beredar di medsos memperlihatkan Bendungan Waeapo setinggi 72 meter itu jebol sekitar pukul 18:00 WIT.
Jebolnya bendungan merendam rumah-rumah penduduk di Desa Wamsait Tambang Gunung Botak, Desa Dafa, Unit Per, Unit 11, dan Desa Wagernangan.

Diduga jebolnya bendungan Waeapo itu disebabkan karena pekerjaan yang dikerjakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku dengan nilai Rp 2, 08 triliun ini bermasalah dan belum juga rampung hingga batas waktu kontrak.
Awalnya, super mega proyek ini ditanda tangan kontrak pada Desember 2017 hingga 2022 dan sudah menghabiskan dana Rp 2 , 08 triliun namun hingga pertengahan 2024 proyek tersebut belum juga rampung.
Pembangunan bendungan yang memiliki kapasitas daya tampung sebesar 50,05 juta meterkubik ini kontraknya dimulai sejak Desember 2017 oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Kementerian PUPR dimana proyek ini terhambat dengan alasan pembebasan lahan sehingga addendum kontrak yang semula rampung pada 2022 menjadi 2024.
Himpunan Mahasiswa Maluku di Jakarta menyebiutkan kerja BWS Maluku tidak becus dalam penyelesaian proyek. Mereka menuding proyek Bendungan Wayapo sarang korupsi, karena itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus menangani kasus tersebut.
Mahasiswa juga mendesak KPK memeriksa Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku, Marvan Lanra Ibnu terkait dugaan korupsinya. Bagi mahasiswa, belum tuntasnya proyek tersebut karena terlalu banyak tindak korupsi yang dilakukan.
Dikutip dari laman web Ambon terkini, Aktivis antikorupsi, Mahyuddin mengungkapkan, kalau enam tahun belum tuntas dikerjakan, aparat penegak hukum harus melakukan pengawasan. Wajar, lanjut dia, kalau mahasiswa menuntut KPK melakukan pemeriksaan terhadap keseluruhan pelaksanaan proyek bendungan Way Apu ini.
Bendungan Wayapo dirancang untuk menyediakan air irigasi seluas 10.000 hektare. Tersedianya air baku dengan debit 500 liter/detik, kemampuan mereduksi banjir sebesar 557 m3/detik, sebagai pembangkit listrik sebesar 8 mw yang mampu menerangi kurang lebih 8.750 rumah dengan daya 900 watt, serta sebagai tempat pariwisata baru yang akan menumbuhkan perekonomian daerah.