AMBON, SirimauPos.com — Penerimaan mahasiswa baru Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon tahun akademik 2026/2027 menunjukkan tren positif.
Jumlah mahasiswa baru meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan jumlah penerimaan mencapai lebih dari 700 mahasiswa.
Kepada SirimauPos, Selasa (22/9/2026) di ruang kerjanya, Rektor IAKN Ambon Elka Anakotta menandaskan bahwa capaian tersebut menjadi sinyal penting di tengah semakin ketatnya persaingan antar perguruan tinggi dalam merebut calon mahasiswa.
Saat ini proses pembelajaran telah memasuki minggu keenam. IAKN Ambon sudah memasuki masa MIT semester dalam dua pekan mendatang.
Di tengah berlangsungnya aktivitas akademik, capaian penerimaan mahasiswa baru menjadi salah satu indikator penting dalam mengevaluasi kinerja institusi dan strategi pengembangan pendidikan.
“Jumlah mahasiswa baru kemarin naik sekitar 10 persen, sehingga jumlah mahasiswa baru sudah 700-an. Itu sudah bisa memenuhi target,” kata Anakotta.
IAKN Ambon sebenarnya menargetkan pertumbuhan penerimaan mahasiswa baru pada kisaran 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Persaingan penerimaan mahasiswa kini semakin kompleks. Calon mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan perguruan tinggi di Maluku, mulai dari perguruan tinggi yang telah lama beroperasi hingga hadirnya institusi dan pilihan pendidikan tinggi lainnya.
Kondisi ini membuat perguruan tinggi harus bekerja lebih keras untuk menjangkau calon mahasiswa sekaligus menjelaskan keunggulan program studi yang ditawarkan.
Salah satu persoalan yang diakui masih menjadi kendala adalah waktu sosialisasi penerimaan mahasiswa baru yang belum dilakukan secara optimal.
Sosialisasi yang terlambat membuat ruang untuk menjangkau calon mahasiswa melalui kunjungan langsung ke berbagai daerah menjadi lebih terbatas.
“Kalau dari sisi sosialisasi, kelihatannya kita lakukan agak terlambat. Itu salah satu kendalanya,” ujarnya.
Dengan pendekatan efisiensi, kegiatan tatap muka lebih difokuskan pada wilayah yang dapat dijangkau dengan biaya relatif terukur.
Meski demikian, sosialisasi tetap dilakukan hingga sejumlah wilayah di luar Ambon, termasuk Maluku Tenggara dan Maluku Utara.
Di sisi lain, strategi digital mulai menjadi instrumen penting untuk memperluas jangkauan penerimaan mahasiswa.
Pola tersebut terutama digunakan untuk menjaring mahasiswa program pascasarjana yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Calon mahasiswa tidak hanya berasal dari Maluku, tetapi juga dari Jawa, Sumatra, Kalimantan hingga Papua.
“Mahasiswa strata dua dan strata tiga ini berasal bukan cuma dari Maluku. Ada yang dari Pulau Jawa, ada yang dari Pulau Sumatra, ada yang dari Kalimantan, ada yang dari Papua. Jadi kita lakukan secara online,” katanya.
IAKN Ambon saat ini memiliki 21 program studi pada jenjang sarjana dan pascasarjana. Program sarjana tersebar pada empat rumpun fakultas, meliputi bidang pendidikan, sosial-keagamaan, seni-keagamaan, serta sains dan teknologi. Sementara program pascasarjana mencakup S2 dan S3 Pendidikan Agama Kristen serta S2 dan S3 Musik Gereja.
Komposisi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas basis penerimaan mahasiswa.
Namun, peningkatan jumlah mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program studi. Strategi promosi yang lebih awal, pemanfaatan media digital, perluasan jaringan sosialisasi dan penguatan daya tarik program studi menjadi faktor yang semakin menentukan dalam menghadapi kompetisi penerimaan mahasiswa ke depan.
“Walaupun memang idealnya kita mau 20 sampai 30 persen naik dari tahun lalu, tetapi minimal tidak turun. Itu sudah sangat baik,” tegasnya.
Dengan penerimaan lebih dari 700 mahasiswa baru dan pertumbuhan sekitar 10 persen, IAKN Ambon kini memiliki basis untuk mengevaluasi strategi penerimaan berikutnya.
Tantangan selanjutnya bukan sekadar mempertahankan angka tersebut, tetapi memperluas jangkauan calon mahasiswa dengan sosialisasi yang lebih dini, efisien dan terukur, baik secara langsung maupun melalui platform digital.(*)




