SirimauPos
SirimauPos

Semarak HUT RI, HUT Provinsi dan HUT GPM, Jemaat Gatik Gelar Lomba Dayung Galala-Poka

Ambon, SirimauPos– Semangat kebersamaan dan pelestarian budaya maritim masyarakat Maluku mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-81, HUT Provinsi Maluku ke-81, dan HUT Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-91 di Jemaat GPM Galala-Hative Kecil (Gatik).

Panitia Hari Besar Gereja (PHBG) Jemaat GPM Gatik menggelar lomba dayung perahu rute Galala-Poka, Sabtu (15/8/2026), dengan melibatkan 11 tim yang mewakili sektor pelayanan.

Lomba yang mengambil titik start di Pantai Galala tersebut bukan sekadar pertandingan olahraga. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan antarwarga jemaat serta menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap jalur transportasi laut Galala-Poka yang pernah menjadi bagian penting mobilitas masyarakat sebelum hadirnya Jembatan Merah Putih.

Setiap tim terdiri atas empat peserta, dengan komposisi dua laki-laki dan dua perempuan. Perlombaan menggunakan sistem estafet. Dua peserta pertama mendayung dari Galala menuju Pantai Poka, kemudian setelah mencapai titik pergantian, perjalanan dilanjutkan oleh dua peserta lainnya dari tim yang sama hingga garis finish.

Format tersebut membuat kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendayung, tetapi juga oleh strategi, ketahanan fisik dan terutama kekompakan antarpeserta. Setiap tim dituntut mampu menjaga ritme dayungan sekaligus mengatur pergantian peserta secara efektif di tengah lintasan yang menghubungkan Galala dan Poka.

Wakil Ketua Majelis Jemaat Penatua Buce Matatula saat membuka perlombaan menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar kompetisi. Menurutnya, tradisi dayung menjadi simbol kebersamaan sekaligus pengingat terhadap sejarah kehidupan masyarakat pesisir Maluku.

“Filosofi lomba dayung ini mengandung nilai kebersamaan dalam sektor pelayanan. Selain itu, ini merupakan budaya yang selalu dipertahankan, mengingat dulu sebelum dibangun Jembatan Merah Putih, perahu Galala-Poka merupakan angkutan transportasi lokal yang sangat strategis,” kata Wakil Ketua Majelis Jemaat, Buce Matatula.

Matatula mengatakan, jalur laut Galala-Poka pada masa lalu menjadi penghubung utama masyarakat di kedua wilayah tersebut. Karena itu, perlombaan tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan terhadap budaya bahari yang diwariskan para pendahulu masyarakat Maluku.

“Dulu satu-satunya jalur yang menghubungkan Galala-Poka adalah melalui perahu. Lomba ini juga untuk mengingatkan kita tentang budaya orang tua kita yang merupakan pelaut yang ulung,” ujarnya.

Dari sisi penyelenggaraan, lomba berlangsung dalam dua tahapan. Babak pertama merupakan babak penyisihan yang diikuti 11 tim.

Tim-tim yang berhasil menjadi pemenang dari masing-masing kelompok kemudian berhak melaju ke babak final. Empat tim terbaik akhirnya memastikan tempat di partai penentuan, yakni Sektor Kalvari, Yarden, Galilea dan Tiberias.
Babak final berlangsung dengan jeda tiga puluh menit.

Persaingan antar tim berlangsung ketat hingga akhirnya Sektor Galilea berhasil menjadi yang tercepat dan merebut juara pertama. Posisi kedua ditempati Sektor Tiberias, sedangkan Sektor Kalvari harus puas di peringkat ketiga.

Sementara Sektor Yarden menyelesaikan perlombaan pada urutan keempat.
Selain mengandung nilai budaya dan kebersamaan, lomba dayung tersebut juga diarahkan sebagai kegiatan olahraga rekreasi.

Aktivitas mendayung di atas perahu menuntut kekuatan fisik, koordinasi tubuh dan kerja sama tim sehingga memberi manfaat bagi kebugaran peserta sekaligus menghadirkan ruang rekreasi bagi warga jemaat.

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian panitia selama kegiatan berlangsung. Satuan Polisi Air Polda Maluku turut memberikan dukungan dengan membantu transportasi peserta dan panitia, melakukan pengawalan serta menyiapkan bantuan apabila terjadi kondisi darurat di laut.

Dukungan pelayanan kesehatan juga diberikan Puskesmas Waihaong melalui keterlibatan tenaga medis selama kegiatan.
Lomba Dayung Galala-Poka akhirnya tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.

Bagi Jemaat GPM Gatik, menghidupkan kembali rute yang dahulu menjadi urat nadi transportasi masyarakat merupakan cara untuk mempertemukan olahraga, sejarah, budaya dan semangat pelayanan gereja dalam satu kegiatan yang melibatkan warga secara langsung.(*)


Dapatkan berita terbaru dari SIRIMAUPOS.COM langsung di ponsel Anda! Klik untuk bergabung di Channel WhatsApp kami sekarang juga.

© Hak Cipta SirimauPos.com. Dilindungi Undang-Undang

error: Konten Dilindungi !