AMBON, SirimauPos– Pemerhati pembangunan Kabupaten Seram Bagian Timur, Costansius Kolatfeka, memberikan apresiasi terhadap langkah cepat Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku dalam mengantisipasi dampak musim kemarau dan fenomena El Nino yang mengancam kawasan sentra pertanian di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).
Respons cepat tersebut dinilai menjadi upaya strategis untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan di wilayah itu.
Langkah yang dilakukan BWS Maluku di bawah kepemimpinan Dr. Ruslan Malik difokuskan pada penanganan sistem irigasi Wai Matakabu yang menjadi sumber pengairan bagi sejumlah kawasan pertanian produktif. Daerah layanan irigasi tersebut meliputi Wai Matakabo, Wai Samet, Wai Ketembaru, Aki Jaya hingga Banggoi Pancorang yang selama ini menjadi sentra produksi padi di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Penanganan dilakukan sebagai respons atas menurunnya debit air akibat musim kemarau berkepanjangan dan fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu aktivitas pertanian. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada produktivitas lahan sawah seluas 185 ha di wilayah itu.
Langkah darurat yang dilakukan oleh BWS dinilai sangat tepat untuk antisipasi pengelolaan infrastruktur irigasi secara optimal.
Menurut Costansius, kebijakan yang diambil BWS Maluku menunjukkan kehadiran pemerintah dalam menjawab persoalan riil yang dihadapi petani. Ia menilai upaya tersebut tidak hanya menyelamatkan jaringan irigasi, tetapi juga menjaga stabilitas produksi pangan yang menjadi salah satu pilar ketahanan pangan daerah.
“Kami pemuda maupun masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur mengapresiasi gerak cepat Balai Wilayah Sungai Maluku di bawah kepemimpinan Dr. Ruslan Malik yang telah mengambil kebijakan penting untuk menyelamatkan kondisi irigasi akibat musim kekeringan dan fenomena El Nino. Langkah ini memastikan sentra-sentra produksi pangan tetap terjaga,” kata Koordinator Pembangunan SPPG 3T Provinsi Maluku, Costansius Kolatfeka, Senin (27/7) di Ambon.
Ia menjelaskan, keberadaan BWS Maluku menjadi sangat penting terutama ketika daerah-daerah sentra pertanian menghadapi ancaman penurunan debit air. Menurutnya, kecepatan dalam mengambil keputusan menjadi faktor utama agar lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air yang memadai selama musim kemarau.
Costansius juga berharap pola penanganan yang diterapkan di Kabupaten Seram Bagian Timur dapat diperluas ke wilayah lain di Provinsi Maluku yang memiliki kawasan strategis produksi pangan, seperti Kabupaten Buru, Kabupaten Seram Bagian Barat, dan Kabupaten Maluku Tengah. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat sistem irigasi secara merata dan berkelanjutan.
“Kami berharap perhatian BWS Maluku tidak hanya dilakukan saat musim ini, tetapi terus berlanjut secara berkesinambungan di seluruh kabupaten yang menjadi sentra pangan. Masyarakat yang merasakan langsung manfaat kebijakan ini tentu memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap langkah-langkah strategis yang dilakukan Kepala BWS Maluku demi menjaga sektor pertanian di Provinsi Maluku,” kata Koordinator Pembangunan SPPG 3T Provinsi Maluku, Costansius Kolatfeka.
Ia menambahkan, keberlanjutan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur irigasi merupakan investasi jangka panjang bagi sektor pertanian. Ketersediaan air yang terjamin diyakini akan meningkatkan produktivitas petani, menjaga stabilitas hasil panen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Gerak cepat BWS Maluku dalam menangani sistem irigasi Wai Matakabu menjadi contoh penting bagaimana sinergi antara pemerintah dan masyarakat mampu meminimalkan dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian. Langkah tersebut diharapkan terus berlanjut melalui penguatan infrastruktur sumber daya air sehingga sentra-sentra produksi pangan di Maluku tetap produktif dan mampu mendukung ketahanan pangan daerah maupun nasional.(Monty)










