Ambon, Sirimaupos.com- Di Bulan Suci Ramadhan 1446 Hijriyah, Universitas Pattimura menggelar Buka Puasa Bersama, Senin, (18/3) bertempat di Aula Rektorat Universitas Pattimura. Buka Puasa bersama ini mengangkat tema “Merajut Kebersamaan Dan Memperkokoh Silahturahmi Menuju Universitas Pattimura Yang Solid di Tengah Masyarakat.
Acara Buka Bersama ini dihadiri oleh seluruh Pimpinan Universitas baik ditingkat Universitas, Lembaga, dan Fakultas, tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan perwakilan mahasiswa dilingkungan Universitas Pattimura.
Rektor Universitas Pattimura Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd mengajak untuk merefleksikan diri sebagai wujud dari kasih dan berkat Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menjalankan tugas–tugas kerja di Unpatti.
Dikatakan, Universitas Pattimura sebagai salah satu perguruan tinggi yang besar di Maluku, sudah banyak hal yang telah dilakukan namun banyak pula tantangan yang dihadapi di masyarakat.
“Dibulan Suci Ramadhan ini kita semua boleh bersama–sama ikut merasakan ibadah yang dilakukan oleh teman–teman atau saudara–saudara kita yang menjalankan ibadah puasa“, ungkapnya.
Rektor mengajak seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan mendoakan lembaga ini agar makin solid, makin eksis serta tetap mengandalkan Tuhan untuk setiap kerja–kerja yang dilakukan.

Prof. Dr. Hasbullah Toisuta, M.Ig dalam menyampaikan Tausiah Ramadhan mengatakan bahwa Ramadhan merupakan ruang spiritual bagi umat muslim untuk dapat mendekatkan diri dengan Tuhan. “Hakekat puasa sesungguhnya yaitu mengenal kedekatan diri dengan Tuhan dan sadar bahwa Tuhan maha hadir. Kesadaran akan kehadiran Tuhan akan dapat diimplentasikan dalam kehidupan sosial kita secara komperhensif, artinya ketika manusia sadar akan kehadiran Tuhan maka dia pantang untuk melakukan hal-hal yang tidak benar,” harapnya.
Pesan yang disampaikan dalam tausiahnya, bahwa Ramadan mendidik orang untuk menyadari keberadaan Tuhan; Membimbing kesadaran kita untuk menunda kebahagiaan hanya kerena kepentingan-kepentingan yang dekat serta Puasa merupakan pelatihan untuk mendidik kepekaan sosial seseorang dalam memperkokoh silahturahim tanpa memandang latar belakang.

“Agama harus dipandang sebagai kekayaan kultural dan menjadi bagian penting dalam konteks kemanusiaan. Peran agama bukan untuk membangun tembok–tembok pemisah tetapi harus membangun jembatan-jembatan perbedaan yang saling menghargai, membanggakan dan mencintai, karena hal-hal yang menjadi klaim kebenaran hanya menjadi bagian kita dengan Tuhan tetapi persoalan kemanusiaan merupakan tanggung jawab kita dengan semua manusia dan alam. Mari kita galangkan hubungan-hubungan kemanusiaan, membangun komitmen kamanusiaan dalam perbedaan dan mendasarinya dengan kasih, sehingga kita dapat membangun universitas pattimura dengan rasa toleransi dan saling menghargai perbendaan dan menjunjung tinggi kemanusian”, tutupnya. (*)