Malteng, SirimauPos- Tim Pascasarjana Universitas Pattimura (Unpatti) mendorong kelompok pemuda di Desa Mesa, Kecamatan TNS, Kabupaten Maluku Tengah, mengembangkan limbah tempurung kelapa menjadi briket biomassa bernilai ekonomi.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Kapasitas Produksi dan Pemasaran Digital Briket Tempurung Kelapa Berbasis Teknologi Tepat Guna pada Kelompok Pemuda di Desa Mesa, Kabupaten Maluku Tengah”, yang berlangsung selama dua hari, 25–26 Agustus 2026.
Program melalui Skema Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM), Program Dosen Mengabdi (PMD) itu melibatkan Prof. Dr. Imanuel Berly D. Kapelle, S.Si., M.Si., Dr. Stanislaus Kostka Ohoiwutun, M.Si., dan Efilina Kissiya, S.Pd., M.Hum., Ph.D.
Kegiatan tersebut dibiayai Pascasarjana Unpatti sebagai bagian dari upaya perguruan tinggi menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kabupaten Maluku Tengah memiliki potensi perkebunan kelapa yang besar. Aktivitas pengolahan kelapa menjadi kopra menghasilkan tempurung dalam jumlah signifikan.
Namun, pemanfaatan limbah tersebut selama ini belum optimal. Tempurung yang tidak dikelola berpotensi menjadi persoalan lingkungan sekaligus menyia-nyiakan sumber daya yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi.
Padahal, tempurung kelapa dapat diolah menjadi briket biomassa dengan nilai kalor yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif sumber energi berbasis sumber daya lokal.
Potensi inilah yang menjadi dasar pelaksanaan program di Desa Mesa.
Kelompok pemuda setempat sebelumnya telah mulai mengolah tempurung kelapa menjadi briket. Namun, pengembangan usaha masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kapasitas produksi hingga pemasaran.
Keterbatasan kapasitas dan efisiensi produksi, belum adanya standar operasional prosedur (SOP) yang baku, serta peralatan yang belum memadai menjadi tantangan utama.
Salah satu kendala paling nyata adalah keterbatasan alat untuk menghancurkan arang menjadi serbuk sebagai bahan baku briket.
Persoalan juga muncul pada aspek pemasaran. Produk masih dipasarkan secara konvensional dengan jangkauan konsumen yang terbatas. Rendahnya literasi dan pemanfaatan teknologi digital turut membuat potensi pasar produk belum berkembang secara maksimal.
Fokus pada Produksi dan Kualitas
Melalui program tersebut, tim pengabdian memberikan pelatihan, penerapan teknologi tepat guna, serta pendampingan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi kelompok pemuda.
Penyusunan dan penerapan SOP menjadi salah satu bagian penting. Dengan SOP yang baku, proses produksi diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur, efisien, dan menghasilkan kualitas briket yang lebih konsisten.
Program ini menargetkan kapasitas produksi sekurang-kurangnya 100 kilogram per minggu.
Dari sisi kualitas, briket yang dihasilkan ditargetkan memiliki kadar air maksimal 10 persen dan stabilitas pembakaran minimal 30 persen.
Peningkatan kualitas tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing produk sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Pemasaran Digital Diperkuat
Tidak berhenti pada produksi, program juga memberikan perhatian terhadap strategi pemasaran.
Kelompok pemuda mendapatkan penguatan mengenai branding produk serta pemanfaatan media sosial dan marketplace. Strategi ini diarahkan untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Dengan pemasaran digital, briket produksi Desa Mesa diharapkan tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga memiliki peluang menjangkau konsumen di wilayah yang lebih luas.
Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Imanuel Berly D. Kapelle, S.Si., M.Si., mengatakan program tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga membangun kemandirian usaha kelompok pemuda dengan memanfaatkan potensi lokal.
Menurutnya, tempurung kelapa yang selama ini dipandang sebagai limbah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan teknologi yang tepat.
“Kami ingin mendorong kelompok pemuda di Desa Mesa agar tidak hanya mampu menghasilkan briket, tetapi juga mampu mengembangkan produk tersebut menjadi usaha yang berkelanjutan. Teknologi tepat guna yang diberikan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi, sementara pemasaran digital akan membantu mereka memperluas pasar dan membangun jaringan konsumen yang lebih luas,” ujar Prof. Berly, Jumat (28/8).
Ia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya peralatan maupun peningkatan produksi selama kegiatan berlangsung.
Lebih dari itu, keberhasilan ditentukan oleh kemampuan kelompok untuk melanjutkan usaha secara mandiri setelah program berakhir.
Karena itu, pendampingan, penerapan SOP, pengendalian kualitas, penguatan branding, dan pemasaran digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program.
“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Kami berharap setelah kegiatan ini selesai, kelompok pemuda dapat mengoperasikan peralatan secara mandiri, menjaga kualitas produk, meningkatkan kapasitas produksi, dan secara bertahap membangun pasar sendiri. Dengan demikian, limbah tempurung kelapa dapat menjadi sumber nilai tambah dan peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Mesa,” jelasnya.
Unpatti Tekankan Keberlanjutan
Prof. Berly juga menilai Desa Mesa memiliki peluang mengembangkan usaha briket karena didukung ketersediaan bahan baku dari aktivitas perkebunan kelapa masyarakat.
Menurutnya, pengembangan produk berbasis sumber daya lokal merupakan salah satu pendekatan penting dalam mendorong ekonomi masyarakat desa sekaligus mendukung pemanfaatan limbah secara lebih berkelanjutan.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui Program Dosen Mengabdi ini, kami ingin membangun kolaborasi dengan masyarakat sehingga potensi lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Pelaksanaan program dilakukan melalui sejumlah tahapan, yakni sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan kelompok pemuda bukan hanya dalam memproduksi briket, tetapi juga dalam mengelola usaha dan melakukan pemasaran secara mandiri.
Pengembangan briket tempurung kelapa di Desa Mesa diharapkan memberikan manfaat jangka panjang. Limbah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk energi bernilai tambah, sekaligus membuka peluang usaha dan sumber pendapatan bagi kelompok pemuda.
Penerapan teknologi tepat guna dan teknologi digital juga diharapkan menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Program tersebut sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendorong hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi ke tingkat masyarakat.
Bagi Desa Mesa, pengolahan tempurung kelapa menjadi briket bukan sekadar persoalan mengubah limbah menjadi produk. Lebih jauh, program ini membuka ruang bagi kelompok pemuda untuk membangun usaha berbasis potensi desa, meningkatkan keterampilan, memperluas pasar, dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang selama ini tersedia di sekitar mereka.




