AMBON, SIRIMAU POS — Gagasan pendidikan berbasis karakter kepulauan dinilai menjadi pendekatan strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Maluku. Konsep ini menekankan pentingnya penyesuaian sistem pendidikan dengan kondisi geografis dan sosial wilayah kepulauan yang memiliki tantangan tersendiri dibandingkan daerah daratan.
Dekan FKIP Universitas Pattimura, Prof Izaak H Wenno, menyatakan bahwa Maluku sebagai provinsi kepulauan membutuhkan model pendidikan yang berbeda dan kontekstual. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada standar nasional, tetapi juga mengintegrasikan karakteristik lokal sebagai bagian dari sistem pembelajaran.
“Pendidikan di Maluku harus berbasis pada karakter kepulauan, karena kondisi geografis kita berbeda dengan daerah lain. Ini penting untuk menjembatani peningkatan mutu pendidikan,” kata dekan FKIP, Izaak Wenno.
Ia menjelaskan bahwa selama ini, pendidikan di Maluku bukan tidak berkembang, melainkan menghadapi banyak variabel kompleks, mulai dari keterbatasan akses, distribusi tenaga pendidik, hingga infrastruktur yang belum merata di wilayah-wilayah terpencil.
Menurutnya, pemahaman yang holistik dari para pengambil kebijakan sangat dibutuhkan agar sistem pendidikan dapat berjalan efektif. Hal ini mencakup sinkronisasi pemikiran yang rasional antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga penjamin mutu pendidikan.
“Pendidikan tidak boleh dianggap sepele. Kita harus fokus pada kegiatan yang benar-benar meningkatkan mutu, dengan membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa relevansi pendidikan menjadi faktor penting dalam pembangunan suatu negara, terlebih bagi Indonesia yang memiliki kondisi geografis beragam dengan ribuan pulau. Oleh karena itu, konsep pendidikan tidak bisa diseragamkan tanpa mempertimbangkan konteks wilayah.
Dalam implementasinya, pendidikan berbasis kepulauan tetap mengacu pada standar nasional pendidikan, namun dikembangkan dengan pendekatan lokal agar lebih relevan dan aplikatif bagi masyarakat setempat.
Model ini juga didorong oleh Lembaga Penjamin Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Pattimura yang tidak hanya berfokus pada riset akademik, tetapi juga pada dampak nyata bagi daerah.
“Orientasi kami di LPTK adalah bagaimana pendidikan berbasis kepulauan ini tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar memberi dampak bagi masyarakat,” kata Izaak Wenno.
Kolaborasi antara Universitas Pattimura, pemerintah daerah, dan balai penjamin mutu pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan sistem pendidikan yang adaptif dan berkualitas di Maluku. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Meskipun Indonesia telah merdeka lebih dari 80 tahun, tantangan pendidikan di Maluku masih nyata. Namun demikian, kondisi tersebut tidak dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk melakukan inovasi dan pembaruan sistem pendidikan.
Dengan adanya pemodelan pendidikan karakter kepulauan, diharapkan kualitas pendidikan di Maluku dapat meningkat secara signifikan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan secara lebih tepat sasaran.(*)
Model Pendidikan Karakter Kepulauan Dinilai Mampu Jadi Solusi Strategis di Maluku










