AMBON, SirimauPos. com – Di saat warga Kota Ambon masih harus bergadang hingga dini hari demi menanti tetesan air yang tak kunjung mengalir stabil, sebuah kabar mengejutkan datang dari Balai Kota. Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, dengan bangga memberikan apresiasi atas pencapaian Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Yapono sebagai Top BUMD Bintang 4.
Namun, bagi pelanggan yang setiap hari berurusan dengan keran kering dan tagihan yang tetap membengkak, penghargaan ini terasa seperti lelucon pahit di tengah krisis air bersih.
Penghargaan di Atas Kertas, Penderitaan di Atas Tanah
Pernyataan Wali Kota yang menyebut Tirta Yapono telah bertransformasi menjadi perusahaan yang “sehat, profesional, dan modern” berbanding terbalik 180 derajat dengan keluhan masyarakat. Di berbagai sudut kota, pelayanan air bersih masih menjadi barang mewah.
Transformasi yang diklaim sebagai “kemajuan signifikan” oleh Plt. Direktur Piet Saimima pun dipertanyakan kredibilitasnya. Jika benar perusahaan ini sudah sehat dan profesional, mengapa akses air bersih masih menjadi momok bagi warga? Dedikasi tinggi yang diapresiasi pemerintah daerah seolah hanya terlihat di laporan administratif, bukan di instalasi pipa rumah tangga.
Disinyalir ada Aroma Amis di Balik Gelar: “Membeli” Prestasi?
Kejanggalan antara predikat “BUMD Terbaik Nasional” dengan buruknya realitas pelayanan memicu spekulasi liar di tengah masyarakat. Muncul pertanyaan mendasar: Bagaimana mungkin perusahaan dengan rapor merah di mata pelanggan bisa mendapat skor biru di mata penilai nasional?
Dugaan adanya praktik “titip nilai” atau upaya sogok-menyogok untuk mendapatkan penghargaan tersebut kian menguat. Di dunia korporasi, bukan rahasia lagi jika ajang penghargaan terkadang menjadi komoditas yang bisa “dikondisikan” demi membangun citra politik (pencitraan) pejabat terkait.
Logika Publik: Jika pelayanan parah tapi penghargaan melimpah, ada sesuatu yang tidak beres dalam proses penilaian.
Investigasi Dibutuhkan: Apakah indikator “Top BUMD” ini benar-benar menyentuh aspek kepuasan pelanggan, atau sekadar manipulasi angka keuangan di atas meja makan malam yang mewah?
“Pelayanan Publik Bukan Panggung Sandiwara, ” Kata Syarif Ambon warga Baru Merah Ambon.
Masyarakat Ambon tidak butuh sertifikat atau piala yang dipajang di kantor Perumdam. Yang dibutuhkan adalah air yang mengalir deras tanpa jadwal yang amburadul.
Wali Kota dan jajaran direksi Tirta Yapono harus sadar bahwa prestasi sejati bukan berasal dari plakat kristal, melainkan dari senyum warga yang tak lagi kesulitan mandi dan mencuci. Jika transparansi dan akuntabilitas yang digembar-gemborkan Saimima itu nyata, maka sudah saatnya audit independen dilakukan untuk melihat apakah ada “mahar” di balik gelar Bintang 4 tersebut.
Jangan sampai, demi ambisi politik dan citra “Ambon yang lebih baik,” suara kering dari tenggorokan warga yang kehausan justru dibungkam dengan seremoni penghargaan yang dibeli.(*)
Ironi Gelar “Bintang 4” di Tengah Seretnya Air: Prestasi Perumdam Tirta Yapono Hasil Kerja Keras atau Main Mata?










