Ambon, Sirimaupos.com — Pemerintah Negeri Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, terus mendorong pengembangan sektor pariwisata sebagai bagian dari visi menjadikan wilayah tersebut sebagai Desa Wisata. Sejumlah potensi wisata alam seperti Air Wae Silaka, Rumah Pohon, hingga kawasan konservasi Pulau Pombo dipandang memiliki daya tarik besar bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Raja Negeri Waai Dirk Bakarbessy mengatakan kepada Wartawan, Jumat (13/3) di Negeri Waai bahwa pengembangan pariwisata menjadi salah satu fokus utama pemerintah negeri karena dinilai mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

“Visi kami ke depan adalah menjadikan Negeri Waai sebagai desa wisata. Karena potensi wisata di sini sangat besar dan bisa memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Dirk Bakarbessy.
Menurutnya, selama ini sejumlah destinasi wisata di Negeri Waai belum dikelola secara terkoordinasi. Karena itu pemerintah negeri sedang mempersiapkan sistem pengelolaan yang lebih terstruktur melalui pembentukan tim khusus yang akan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK).
Salah satu destinasi yang menjadi perhatian pemerintah negeri adalah lokasi Wae Silaka atau yang dikenal masyarakat sebagai wisata “Belut”. Lokasi wisata alam ini telah dikenal luas sejak puluhan tahun lalu dan bahkan telah menjadi tujuan wisatawan mancanegara sejak era 1970-an.

“Wisata Wae Silaka sudah lama dikenal, bahkan sejak tahun 70-an wisatawan mancanegara sudah datang. Ke depan akan kami tata dan dilengkapi fasilitas agar lebih layak dikunjungi,” katanya.
Selain itu, objek wisata Rumah Pohon di Negeri Waai juga menjadi daya tarik yang cukup populer di kalangan wisatawan. Bahkan destinasi tersebut pernah meraih penghargaan sebagai juara pertama dalam ajang wisata tingkat nasional.

Meski demikian, hingga kini pengembangan wisata Rumah Pohon dinilai belum mendapat dukungan optimal, terutama dalam hal promosi wisata maupun pengembangan fasilitas pendukung.
“Rumah Pohon pernah menjadi juara satu tingkat nasional, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut serius dari pemerintah, khususnya dalam promosi wisata dan pengembangannya,” kata Dirk.
Ia juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan menuju sejumlah lokasi wisata di Negeri Waai yang masih belum memadai. Akses jalan yang kurang baik dinilai menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan sektor pariwisata.

“Selain promosi, infrastruktur jalan menuju lokasi wisata juga masih belum memadai. Ini menjadi salah satu kendala bagi pengunjung yang ingin datang,” ujarnya.
Negeri Waai juga memiliki potensi wisata konservasi melalui kawasan Cagar Alam Taman Laut Pulau Pombo yang berada tidak jauh dari pantai Waai. Kawasan ini dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku sebagai kawasan konservasi.
“Pulau Pombo saat ini dikelola oleh BKSDA Maluku sebagai kawasan cagar alam taman laut,” katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun, sepanjang tahun 2025 tercatat lebih dari 1.000 kunjungan wisatawan ke Pulau Pombo. Kunjungan tersebut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di wilayah sekitar melalui skema bagi hasil sesuai nota kesepahaman atau MoU yang telah disepakati.
“Negeri Waai mendapatkan penghasilan dari sistem bagi hasil sesuai MoU. Begitu juga negeri-negeri lain yang ditetapkan sebagai zona penyangga seperti Kailolo dan Liang,” ujar Dirk.
Menurutnya, jika seluruh potensi wisata di Negeri Waai dapat dikelola secara profesional dan terintegrasi dengan dukungan pemerintah, maka sektor pariwisata dapat berkembang lebih pesat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Dirk berharap ke depan ada sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya untuk mendorong pengembangan pariwisata di Negeri Waai secara berkelanjutan.
“Kami berharap ada dukungan pemerintah dan kesiapan masyarakat agar potensi wisata di Negeri Waai bisa berkembang lebih baik dan memberikan manfaat bagi semua,” katanya.(*)










