SirimauPos
SirimauPos

Persoalan Sampah di Kota Ambon Jadi Isu Sentral Raker DPP Santa Maria Bintang Laut

AMBON , Sirimaupos. com – Persoalan sampah di Kota Ambon kembali menjadi sorotan serius. Isu ini mengemuka dalam Rapat Kerja (Raker) Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Maria Bintang Laut (MBL) Ambon yang digelar di Gedung Katolik Center, Selasa (17/02). Fokus utama pembahasan adalah langkah konkret mendukung program kebersihan pemerintah kota melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP) menjelang masa Prapaskah 2026.
Raker tersebut dihadiri 24 Ketua Rukun, tiga utusan perwakilan rukun, serta lebih dari 100 anggota DPP Paroki Santa Maria Bintang Laut Ambon. Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Kota Ambon, Roberd Sapulete, yang mewakili Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena.
Dalam forum itu, Pastor Paroki MBL, RD Amandus Oratmangun, menegaskan bahwa persoalan sampah, khususnya sampah plastik dan anorganik, telah mencemari wilayah pesisir Benteng, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Karena itu, sebagian program APP 2026 akan difokuskan pada aksi pembersihan pantai dan laut.
“Program kerja ini saya mengharapkan nanti satu dua program, mengimplementasikan program dari pemerintah kota. Karena laut kita yang tercemar karena sampah, mungkin dalam aksi puasa pembangunan ini, kita masuk Rabu Abu, satu hari kita bisa tentukan untuk bersihkan pantai dan laut di sekitar kita ini dari sampah,” kata Pastor Paroki MBL, Amandus Oratmangun.
Ia menjelaskan, sampah anorganik seperti plastik, kaca, logam, besi, karet, kaleng, dan styrofoam merupakan material yang sulit terurai secara biologis. Plastik bahkan membutuhkan waktu hingga 450 tahun untuk hancur. Dalam prosesnya, plastik berubah menjadi mikroplastik yang mencemari tanah, air, dan udara serta masuk ke dalam rantai makanan.
Dampak lain yang tak kalah serius adalah pencemaran tanah dan air akibat zat kimia beracun yang dilepaskan plastik. Di laut, organisme kerap menelan plastik yang disangka makanan sehingga menyebabkan kematian. Pembakaran sampah plastik juga melepaskan dioksin dan furan yang berisiko memicu gangguan pernapasan hingga kanker. Selain itu, sampah plastik di saluran air menyebabkan penyumbatan dan berpotensi memicu banjir.
“Kita tentukan satu hari, melibatkan pengurus Dewan Pastoral Paroki, Orang Muda Katolik (OMK) 200 orang Paroki Santa Maria Bintang Laut kita gerakan untuk membersihkan pesisir pantai dan laut sekitar kita dari sampah-sampah plastik, mungkin ada yang gunakan perahu angkat sampah plastik di laut, atau juga sampah di pinggir jalan dan atau di got,” kata Pastor Paroki MBL, Amandus Oratmangun.
Menurutnya, aksi nyata tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk tanggung jawab moral gereja terhadap krisis lingkungan yang semakin nyata di Kota Ambon. Ia menekankan bahwa kebersihan lingkungan merupakan faktor penentu kesehatan masyarakat.
“Kesehatan itu juga sangat ditentukan oleh kebersihan keluarga dan lingkungan, sangat ditentukan oleh kita sendiri bukan pemerintah yang menentukan tapi kita sendiri yang menentukan,” kata Wakil Uskup Wilayah Kota Ambon, Amandus Oratmangun.
Raker juga menjadi momentum konsolidasi internal. Sebelumnya, pada Sabtu (14/02), telah dilakukan pembekalan bagi ketua dan pengurus rukun, kemudian dilantik pada Minggu (15/02). Struktur rukun ini dinilai strategis dalam menggerakkan umat hingga tingkat akar rumput agar program gereja berjalan efektif dan terarah.
Dukungan terhadap inisiatif gereja datang dari Pemerintah Kota Ambon. Sekretaris Kota Ambon, Roberd Sapulete, menyampaikan apresiasi atas kebijakan strategis DPP MBL yang memfokuskan program kerja pada aksi pembersihan lingkungan.
“Kalau kebijakan pastor paroki MBL melalui rapat kerja pastoral ini untuk aksi puasa pembangunan pembersihan lingkungan melalui pembersihan sampah di area pantai dan laut di sekitar sini, itu berarti sesuatu tindakan nyata bahwa gereja tidak hanya berbicara dalam ruang lingkup gereja, melainkan gereja bekerja secara nyata,” kata Sekretaris Kota Ambon, Roberd Sapulete.
Ia bahkan memastikan dukungan operasional dari pemerintah kota apabila diperlukan armada pengangkut sampah.
“Terimakasih Pastor, kalau sampah banyak tinggal pastor kontak Beta, Beta suruh mobil sampah datang angkat sampah di tempat sini,” kata Sekretaris Kota Ambon, Roberd Sapulete.
Sapulete juga menyinggung kondisi Teluk Dalam Ambon yang disebut semakin tercemar. Ia mengakui persoalan sampah menjadi tantangan utama pemerintah kota, terutama akibat rendahnya disiplin masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.
“Persoalan yang dihadapi pemerintah kota saat ini adalah sampah, dimana-mana ada sampah. Namun yang menjadi persoalan kadang kita tidak tertib dalam membuang sampah. Kotak sampah sudah disediakan tapi tidak dimasukan dalam kotak, malah diletakan di depan kotak sampah yang tersedia,” kata Sekretaris Kota Ambon, Roberd Sapulete.
Secara lebih luas, Raker DPP MBL menegaskan bahwa gereja melalui pelayanan pastoral tidak hanya membina kehidupan iman, tetapi juga memperkuat kepedulian sosial, ketahanan keluarga, serta pembinaan generasi muda. Dalam perspektif pembangunan kota, kolaborasi antara gereja dan pemerintah menjadi kekuatan sosial yang menopang terciptanya masyarakat religius, beradab, dan berkelanjutan.
Melalui Aksi Puasa Pembangunan 2026 yang difokuskan pada pembersihan pesisir Benteng dan wilayah sekitarnya, DPP Santa Maria Bintang Laut Ambon berupaya menjawab persoalan sampah di Kota Ambon dengan langkah konkret. Sinergi lintas elemen ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi gerakan kolektif menuju Ambon yang lebih bersih dan sehat.(*)


Dapatkan berita terbaru dari SIRIMAUPOS.COM langsung di ponsel Anda! Klik untuk bergabung di Channel WhatsApp kami sekarang juga.

© Hak Cipta SirimauPos.com. Dilindungi Undang-Undang

error: Konten Dilindungi !