banner 1080x1921
banner 1080x1921
SirimauPos

PDIP MALUKU “KERDIL” TANPA MURAD ISMAIL?

Ambon, Sirimaupos.com- Kader-kader  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maluku kini dikabarkan perlahan-lahan berbalik meninggalkan gerbong PDIP dan bergabung dengan partai lain pasca bergabungnya istri gubernur Maluku Widya Pratiwi Murad ke Partai Amanat Nasional (PAN).  Sebelumnya, Widya dalam berbagai kegiatan sosial telah membangun elektabilitas yang melahirkan gerbong besar di tubuh PDIP Maluku dan berhasil membuat “merah” Maluku dengan berbagai atribut dan alat peraga dimana  gerbong besar ini diprediksi bakal mengantar Widya menuju Senayan Jakarta dengan mengibarkan bendra PDIP.

Namun suhu politik di internal PDIP mulai naik-turun ketika Widya Priatiwi Murad yang notabene adalah Istri Gubernur Maluku, Murad Ismail (MI) dan sekaligus Ketua DPD PDIP Maluku harus didepak dari nomor urut “jadi” untuk Bacaleg DPR RI Dapil Maluku. Ada alasan di internal DPP PDIP dimana Widya Pratiwi dinilai sebagai kader yang baru bergabung di PDIP ketika Murad Ismail menjadi Gubernur Maluku dan Ketua DPD PDIP Maluku, sementara masih ada kader lain yang menyandang status “senioritas”

SirimauPos

Sebuah pola pikir modern yang diterapkan oleh MI selama menjadi ketua DPD PDIP Maluku sebenarnya telah melahirkan inovasi dan regenerasi kader di tubuh PDIP Maluku yang selama ini menjadi kekurangan di PDIP Maluku.

MI mungkin tak berpikir senioritas ataukah yunioritas di tubuh PDIP, tetapi lebih berpikir tentang strategis,  loyalitas dan apresiasi.  Kenyataannya bahwa pikiran modern MI banyak melahirkan polarisasi kepemimpinan mengikuti karakter politik orang Maluku dimana seseorang akan selalu loyal kepada siapapun yang menjadi pemimpin jika diberikan apresiasi sesuai dengan loyalitasnya

Dan sebaliknya “orang akan memberontak jika apresiasi yang diterima tidak sejalan dengan loyalitas yang diberikan. Loyalitas bisa saja dalam bentuk dukungan, pemikiran, pendapat, waktu, tenaga maupun biaya serta yang paling penting adalah dukungan keluarga yang merupakan legesi dari sebuah konsekwensi manjadi seorang pemimpin besar”

Sementara apresiasi bisa dalam bentuk peran, kesempatan, materi, mapun kepercayaan dan yang paling berharga adalah apresiasi publik dalam bentuk dukungan moral dan opini publik

SirimauPos

Terlepas dari opini dan pemikiran negatif maupun  positif terhadap gaya kepemimpinan MI sebagai Ketua DPD PDIP Maluku, kita patut memberikan apresiasi kepada MI dan keluarganya dalam  loyalitasnya kepada PDIP Maluku selama ini.

Tak dapat disangkal bahwa kepemimpinan MI lebih banyak dominasi karakter orang Maluku karena MI lahir dan dibesarkan di Maluku dimana orang Maluku  berdarah melankolis dengan kaeakter dan tingkat emosional yang sangat tinggi.

“Orang Maluku memang kasar dan selalu tegas jika apresiasi tak harus dinikmati ketika merasa sudah sangat loyal”

Pola pikir yang berbeda di kalangan petinggi PDIP di Maluku juga dirasa telah memberikan kontribusi bagi hilangnya gerbong besar yang telah dirintis MI selama menjadi ketua DPD PDIP Maluku.  “Banyak petinggi PDIP yang masih takut kehilangan momen dan takut kehilangan lebel senioritas kendati pemikirannya sudah kadaluarsa dan langkahnya sudah tidak energis”.

Sementara itu banyak kader muda PDIP yang loyal dan berpikir modern  sementara menunggu apresiasi dari partai.

Widya mungkin saja merasa bahwa sepak terjang dirinya dalam membangun gerbong besar PDIP di Maluku selama ini tak dapat dinikmati oleh dirinya dalam panggung politik Pemilu 2024 karena belum memiliki label “senioritas”.  Padahal dalam berbagai ajang konsolidasi PDIP di Maluku,  MI selama menjabat sebagai ketua DPD PDIP Maluku selalu optimis dan menjamin bahwa “PEMILU 2024 PDIP AKAN MERAIH 2 KURSI DPR RI”.

Tekad besar MIurad menjadikan dua kursi DPR RI PDIP untuk dapil Maluku ini tidak main-main karena Widya selalu diberi peran penting dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan terlepas dari jabatannya sebagai ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku.  Banyak status sosial yang telah disandang Widya Partiwi Murad mulai dari Bunda Literasi, Duta Stunting hingga gelar Ina Latu Maluku. Widya juga diberi peran penting dalam bidang olahraga, kesenian, kesehatan, pendidikan hingga kepramukaan yang banyak memakan waktu, tenaga dan biaya.

“Semua itu dijalani Widya karena harus mendukung MI dalam kepemimpinannya sebagai gubernur Maluku dan Ketua DPD PDIP Maluku.  Selain itu Widya juga memiliki tanggung jawab dalam.partai sebagai Wakil Ketua DPD PDIP Maluku bidang Pengembangan SDM.

Namun sebuah teori kepentingan politik dengan istilah  loyality versus appreciation telah melahirkan opini tentang asumsi bahwa dalam berpolitik harus ada keseimbangan antara loyalitas dan apresiasi.

“Widya mungkin berfikir tentang apresiasi sementara DPP PDIP lebih memikirkan loyalitas” sehingga teori kepentingan politik loyality versus appreciation menjadi sebuah kenyataan yang harus dimengerti oleh setiap kader dan pengurus partai politik.

Belajar dari insiden pemecatan Murad Ismail (MI) oleh DPP PDIP sebagai Ketua DPD PDIP Maluku dengan alasan bahwa Istrinya (Widya Pratiwi Murad) telah keluar dari PDIP dan bergabung dengan PAN adalah bukan saja wujud dari sebuah kesenjangan antara loyalitas dan apresiasi, tetapi sebuah pembelajaran berarti bagi PDIP Maluku bahwa tak selamanya senioritas bisa melahirkan gerbong besar… tetapi bisa saja mengkerdilkan PDIP di Maluku.

Penulis:

Falianda Novita Pieris, S.Pi

(Pemerhati PDIP Maluku)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Dilindungi !