AMBON, SIRIMAU POS — Suasana malam perayaan satu abad Jemaat GPM Galala Hative Kecil (Gatik) berubah menjadi pesta rakyat yang penuh keakraban.
Dalam kemeriahan Malam Badonci, sejumlah tokoh penting Kota Ambon ikut larut dalam kegembiraan bersama warga dan anak-anak sekolah minggu yang tampil membawakan tarian tradisional.
Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menjadi salah satu sosok yang mencuri perhatian. Tidak tampil dalam suasana formal pemerintahan, Bodewin justru terlihat santai, tersenyum dan menikmati setiap rangkaian Badonci bersama anak-anak sekolah minggu yang menampilkan tarian katreji dan dansa
Kehadiran Ketua DPRD Kota Ambon Moritz Tamaela, anggota DPRD Kota Ambon Gunawan Mochtar, serta sejumlah undangan lainnya semakin menambah semarak perayaan satu abad Jemaat Gatik. Malam itu, panggung tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang perjumpaan antara pemimpin, tokoh masyarakat, jemaat dan generasi muda.
Momen menarik terjadi ketika komando Badonci mengarahkan para penari untuk mencari pasangan. Para penari perempuan mencari pasangan laki-laki, sementara penari laki-laki mencari pasangan perempuan. Suasana sontak menjadi lebih hidup ketika para peserta bergerak mencari pasangan masing-masing di tengah sorak dan tepuk tangan warga.
Di tengah keceriaan tersebut, Wali Kota Bodewin Wattimena pun ikut melantai. Dengan senyum khasnya, ia tampil santai bersama anak-anak sekolah minggu. Tak ada sekat antara seorang kepala daerah dengan masyarakat yang malam itu sedang merayakan perjalanan panjang satu abad kehidupan jemaat.
Suasana semakin menarik ketika Bodewin berdansa wals bersama pasangannya. Langkahnya mengikuti irama musik yang mengalun syahdu. Sesekali senyum terpancar dari wajahnya, memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin dapat menikmati kebersamaan tanpa harus selalu berada di balik meja pemerintahan.
Wali Kota tampil beda dalam pesta rakyat. Bukan sebagai pejabat yang berdiri di atas panggung dengan protokoler yang kaku, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ikut bergembira, menari dan merawat tradisi. Momen sederhana itu justru menghadirkan pesan bahwa kepemimpinan juga membutuhkan kedekatan dengan rakyat.
Malam Badonci menjadi gambaran bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan lintas generasi.
Anak-anak sekolah minggu tampil membawa semangat generasi muda, sementara para tokoh daerah dan jemaat hadir memberikan dukungan dalam suasana penuh persaudaraan.
Perayaan satu abad Jemaat GPM Galala Hative Kecil pada akhirnya bukan sekadar mengenang perjalanan 100 tahun. Lebih dari itu, pesta rakyat tersebut menjadi momentum untuk merawat identitas, tradisi dan kebersamaan.
Ketika seorang wali kota ikut melantai bersama anak-anak dan warga, pesan yang muncul sederhana namun bermakna: pemimpin yang dekat dengan rakyat akan selalu menemukan ruang untuk tertawa, berbagi dan merayakan kehidupan bersama rakyatnya.(Monty)




